Penilaian Berbasis Kelas

A. Latar Belakang

Makna penilaian berbasis kelas (yang selanjutnya disebut saja dengan ‘penilaian’) adalah kegiatan penilaian yang dilakukan guru terhadap siswanya sendiri. Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian internal yang dilakukan di sekolah. Penilaian seperti Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan oleh pihak luar sekolah tidak termasuk dalam lingkup penilaian berbasis kelas.

Kegiatan penilaian merupakan tugas professional guru yang wajib dilakukan secara terus menerus. Kegiatan penilaian meliputi, beragam kegiatan seperti mengamati, mencatat, merekam, membuat kesimpulan, dan memberi saran hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan siswa belajar. Karena itu, kegiatan penilaian ini merupakan upaya mengumpulkan informasi tentang kemampuan siswa belajar selain membuat keputusan tentang posisi kemajuan siswa belajar pada rentang tercapai – tidak tercapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, makna penilaian menyangkut dua gagasan kunci yaitu, mengumpulkan informasi (collecting information) dan membuat kepuutusan (making judgements).

Hasil penilaian ini akan mempengaruhi pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan guru dalam proses pembelajaran. Penilaian dan kegiatan pembelajaran akan bermuara pada penguasaan kompetensi yang sudah ditetapkan. Selama ini pelaksanaan penilaian di kelas kurang mampu mengungkapkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Beberapa alasan mengapa ini terjadi antara lain, karena cara dan alat yang digunakan kurang sesuai dan kurang bervariasi, karena keterbatasan kemampuan dan waktu, penilaian cenderung dilakukan dengan menggunakan cara dan alat yang lebih menyederhanakan tuntutan perolehan siswa. Hasil evaluasi pelaksanaan Kurikulum 1994 (Pusat Kurikuum, 2000) menunjukkan bahwa penilaian yang dilakukan guru di kelas selama ini, kurang mampu memperlihatkan tuntutan hasil belajar siswa, yang antara lain adalah;

  1. mengungkapkan pemahamannya dengan kalimat sendiri secara lisan dan tertulis;
  2. mengekspresi gagasan, khususnya dalam bentuk gambar, grafik, diagram, atau symbol lainnya;
  3. mengembangkan keterampilan fungsional sebagai hasil interaksi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya;
  4. menggunakan lingkungan (fisik, sosial, dan budaya) sebagai sumber dan media belajar;
  5. membuat laporan penelitian dan membuat sinopsis; dan
  6. mengembangkan kemampuan bereksporasi dan mengaktualisasi diri.

Di samping itu, penilaian yang dilakukan tidak hanya untuk mengungkapkan hasil belajar ranah kognitif, tetapi juga diharapkan mampu mengungkapkan hasil belajar siswa dalam lingkup ranah afektif dan psikomotor. Diharapkan penilaian kelas mampu mengatasi permasalahan penilaian yang ada sehingga hasil belajar siswa dapat dinilai sesuai dengan tuntutan kompetensi.

B. Manfaat Penilaian

Penilaian berbasis kelas dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan siswa belajar guna menetapkan ketuntasan siswa belajar. Hasil penilaian ini memiliki banyak manfaat, misalnya;

  • Sebagai umpan balik bagi siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga termotivasi untuk meningkatkan dan memperbaiki hasil belajarnya.
  • Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remidiasi.
  • Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang sudah diterapkan
  • Sebagai masukan bagi guru untuk merencanakan kegiatan belajar supaya semua siswa dapat mencapai kompetensi meski dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
  • Sebagai informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan supaya partisipasi orang tua dan komite sekolah dapat ditingkatkan.

Selain manfaat di atas, penilaian berbasis kelas atau penilaiaan yang dilakukan guru sendiri ini memiliki beberapa keunggulan antara lain;

  • Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan dan memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan apa yang mampu dikerjakannya.
  • Prestasi belajar siswa tidak selalu dibandingkan dengan prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya; dengan demikian siswa tidak didiskriminasi (lulus atau tidak lulus, pintar atau bodoh dan masuk ranking berapa), tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan.
  • Pengumpulan informasi dilakukan dengan berbagai cara agar gambaran kemampuan siswa dapat lebih lengkap terdeteksi atau terungkap.
  • Siswa tidak sekedar dilatih memilih jawaban yang tersedia, tetapi lebih dituntut mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan potensinya dalam menanggapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri.
  • Pengumpulan informasi menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara terencana, bertahap, dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang memadai. Dengan demikian, siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya.
  • Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM) tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses). Hasil kerja atau karya siswa dapat berujud 2 dimensi (tertulis) yang dapat dikumpulkan dalam portofolio dan yang berbentuk 3 dimensi (produk) terutama dihasilkan melalui PBM. Karya tersebut dapat juga bersumber atau berasal dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan sekolah, kegiatan OSIS, kegiatan lomba antar sekolah, bahkan kegiatan hobi pribadi. Dengan demikian, penilaian kelas mengurangi dikhotomi antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan penilaian serta antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
  • Kriteria penilaian karya siswa dapat dibahas guru dengan para siswa sebelum karya itu dikerjakan; dengan demikian siswa mengetahui patokan penilaian yang akan digunakan atau secara tidak langsung terdorong agar berusaha mencapai harapan (expectations) (standar yang dituntut) guru.

C. Pengertian Penilaian Kelas

Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis (paper and pencil test), penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa (portofolio), penilaian produk 3 dimensi, dan penilaian, unjuk kerja (performance) siswa. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa.

Penilaian kelas merupakan penilaian yang dilakukan guru baik yang mencakup aktivitas penilaian untuk mendapatkan nilai kualitatif maupun aktivitas pengukuran untuk mendapatkan nilai kuantitatif (angka). Perlu diingat bahwa penilaian kelas dilakukan terutama untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa yang dapat digunakan sebagai diagnosis dan masukan dalam membimbing siswa dan untuk menetapkan tindak lanjut yang perlu dilakukan guru dalam rangka meningkatkan pencapaian kompetensi siswa.

D. Perbedaan evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes

Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi , pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa. Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

E. Prinsip Penilaian

Paling tidak ada 6 prinsip penilaian yang perlu dipertimbangkan sewaktu melakukan penilaian. Keenam penilaian itu meliputi; validitas, realibilitas, terfokus pada kompetensi, menyeluruh, objektif, dan edukatif (bersifat mendidik)

1. Validitas

Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya dinilai. Ini contoh kompetensi yang perlu dinilai dan pemilihan alat penilaian

Jika guru menilai kompetensi A dan alat penilaian yang digunakan adalah X, penilaian ini valid. Jika yang hendak dinilai kompetensi A dengan alat penilaian X, dalam kenyataan yang dinilai bukan kompetensi A tetapi B, penilaian ini tidak valid. Jika yang hendak dinilai kompetensi A dengan alat penilaian X, dalam kenyataan yang dipakai justru alat penilaian Y, penilaian ini tidak valid.

2. Reliabilitas

Penilaian yang reliable (terpercaya) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin konsistensi. Misalnya, guru menilai kompetensi siswa dalam melakukan eksperimen kimia dalam laboratorium. Tiga puluh siswa melakukan eksperimen dan masing-masing menulis laporannya. Penilaian ini reliable jika guru dapat membandingkan taraf penguasaan 30 siswa itu dengan kompetensi eksperimen yang dituntut dalam kurikulum. Penilaian ini reliable jika 30 siswa yang sama mengulangi eksperimen yang sama dalam kondisi yang sama dan hasilnya ternyata sama. Kondisi yang sama misalnya;

  • Tidak ada siswa yang sakit
  • Penerangan/pencahayaan dalam laboratorium sama
  • Suhu udara dalam lab sama
  • Alat yang digunakan sama

Penilaian tersebut tidak reliable jika ada kondisi yang berubah, misalnya ada 3 siswa yang sakit tetapi dipaksa melakukan eksperimen yang sama, dan ternyata hasilnya berbeda.

3. Terfokus pada kompetensi

Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan pada penguasaan materi (pengetahuan).

4. Keseluruhan

Penilaian harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan siswa, sehingga tergambar profil kemampuan siswa.

5. Objektivitas

Penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Untuk itu, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan bahasa yang dapat dipahami siswa, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka (skor).

6. Mendidik

Penilaian dilakukan bukan untuk mendiskriminasi siswa (lulus atau tidak lulus) atau menghukum siswa tetapi untuk mendiferensiasi siswa (sejauh mana seorang siswa membuat kemajuan atau posisi masing-masing siswa dalam rentang cakupan pencapaian suatu kompetensi). Berbagai aktivitas penilaian harus memberikan gambaran kemampuan siswa, bukan gambaran ketidakmampuannya.

F. Peranan Penilaian Kelas

Penilaian secara umum memiliki peranan yang sangat penting dalam kurikulum. Peranan penilaian adalah untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.

  1. Sebagai grading, penilaian berperan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja siswa dibandingkan dengan siswa lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan siswa dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
  2. Sebagai alat seleksi, penilaian berperan untuk memisahkan antara siswa yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Siswa yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk
  3. atau tidak di sekolah tertentu.
  4. Peranan penilaian untuk menggambarkan sejauh mana seorang siswa telah menguasai kompetensi.
  5. Sebagai bimbingan, penilaian berperan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
  6. Sebagai alat diagnosis, penilaian berperan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami siswa dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
  7. Sebagai alat prediksi, penilaian berperan untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja siswa pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik. Dari keenam peranan penilaian tersebut, peranan untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian kelas. Sesuai dengan peranan tersebut, penilaian kelas menuntut guru agar secara langsung atau tak langsung mampu melaksanakan penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran. Jadi, peran penilaian kelas adalah memberikan masukan informasi secara komprehensif tentang hasil belajar siswa baik dilihat ketika saat kegiatan pembelajaran berlangsung maupun dilihat dari hasil akhirnya, dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai siswa.

G. Peranan Penilaian

Penilaian secara umum memiliki peranan yang sangat penting dalam kurikulum. Peranan penilaian adalah untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.

  1. Sebagai grading, penilaian berperan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja siswa dibandingkan dengan siswa lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan siswa dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).

  1. Sebagai alat seleksi, penilaian berperan untuk memisahkan antara siswa yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Siswa yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.

  1. Peranan penilaian untuk menggambarkan sejauh mana seorang siswa telah menguasai kompetensi.

  1. Sebagai bimbingan, penilaian berperan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.

  1. Sebagai alat diagnosis, penilaian berperan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami siswa dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.

  1. Sebagai alat prediksi, penilaian berperan untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja siswa pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik. Dari keenam peranan penilaian tersebut, peranan untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian kelas. Sesuai dengan peranan tersebut, penilaian kelas menuntut guru agar secara langsung atau tak langsung mampu melaksanakan penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran. Jadi, peran penilaian kelas adalah memberikan masukan informasi secara komprehensif tentang hasil belajar siswa baik dilihat ketika saat kegiatan pembelajaran berlangsung maupun dilihat dari hasil akhirnya, dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai siswa.

H. Hasil belajar sebagai ‘learning outcome’

Dalam KTSP ini perlu mencantumkan output berupa outcome atau hasil belajar yang berdampak. Hafalan yang tidak relevan, pengetahuan yang sederhana, dan pemahaman tingkatan rendah merupakan hasil belajar, tetapi bukan hasil belajar yang berdampak. Yang dimaksudkan dampak disini adalah dampak terhadap kegiatan belajar selanjutnya pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain, pada kegiatan belajar pada jenjang pendidikan lebih tinggi, atau terhadap aktivitas dalam dunia kerja dan dalam kehidupan di masyarakat. Contoh hasil belajar yang berdampak adalah:

  • membaca peta
  • membuat peta
  • menulis puisi
  • menulis karangan
  • menyusun naskah drama
  • menghitung
  • mengukur
  • mengendalikan variabel
  • melakukan eksperimen
  • menabung
  • membuat model
  • menggambar rancang bangun
  • menyelesaikan konflik
  • membuat tabel, grafik, diagram
  • menafsirkan tabel, grafik, diagram

Rumusan hasil belajar yang berdampak sebaiknya dapat ditunjukkan atau didemonstrasikan siswa (demonstrable), dapat diamati (observable), dan spesifik (khusus). Dalam KBK hasil belajar yang berdampak dirumuskan pada tingkat yang paling umum sampai dengan tingkat yang paling khusus, mulai dari rumusan kompetensi tamatan, kompetensi lintas kurikulum, standar kompetensi rumpun bahan kajian, standar kompetensi mata pelajaran sampai dengan rumusan kompetensi dasar atau hasil belajarnya. Selain itu, dalam KBK dicantumkan indikator penilaian atau indikator pencapaian hasil belajar siswa. Indikator merupakan penunjuk sampel hasil belajar siswa atau pencapaian kompetensi dasar. Indikator tersebut dapat membantu guru dalam merancang penilaian. Dengan demikian, dalam KBK hanya dicantumkan outcome (hasil belajar yang berdampak) dan indikator penilaian. Apa pun input yang akan digunakan guru dan apa pun proses yang hendak dilakukan guru, yang penting kurikulum telah menetapkan standar atau hasil belajar yang berdampak yang dituntut secara nasional. Karena itu, di lapangan hendaknya disusun silabus sebagai jembatan antara tuntutan kurikulum dan proses belajar-mengajar (PBM). Adapun unsur-unsur penting yang seyogianya dicantumkan dalam

silabus adalah:

  • Alat, bahan, dan sumber belajar
  • Pengalaman/kegiatan belajar
  • Penilaian: alat penilaian (jika perlu)

Penilaian tersebut terutama disusun berdasarkan indikator yang tercantum dalam kurikulum. Jika silabus per mata pelajaran telah disusun, guru dapat menggunakan silabus tersebut untuk merencanakan dan melaksanakan penilaian kelas.

I. TEHNIK PENILAIAN

Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Dengan indikarot-indikator ini, dapat ditentukan penilaian yang sesuai. Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

1. Penilaian Unjuk Kerja

a. Pengertian

Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan unjuk kerja. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Unjuk kerja yang dapat diamati seperti: bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi, menggunakan peralatan laboratorium, mengoperasikan suatu alat.

Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

· langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.

· Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.

· kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

· Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.

· kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati

b. Teknik Penilaian Unjuk Kerja

Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya, perlu dilakukan pengamatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti: diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan melakukan wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen berikut:

a. Daftar Cek

Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak). Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah. Berikut contoh daftar cek.

Contoh checklists

Format Penilaian Pidato Bahasa Inggris

(Menggunakan Daftar Tanda Cek)

Nama peserta didik: ________ Kelas: _____

No.

Aspek Yang Dinilai

Ya

Tidak

1.

Berdiri tegak

2.

Memandang ke arah hadirin

3.

Pronunciation baik

4.

Sistematika baik

5.

Mimik baik

6.

Intonasi baik

7.

Penyampaian gagasan jelas

Skor yang dicapai

Skor maksimum

7

b. Skala Rentang

Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut, misalnya, sangat kompeten – kompeten – agak kompeten – tidak kompeten.

Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Berikut contoh skala rentang.

Contoh rating scales

Format Penilaian Pidato Bahasa Inggris

(Menggunakan Skala Penilaian)

Nama Siswa: ________ Kelas: _____

No.

Aspek Yang Dinilai

Nilai

1

2

3

4

1.

Berdiri tegak

2.

Memandang ke arah hadirin

3.

Pronunciation

4.

Sistematika

5.

Mimik

6.

Intonasi

7.

Kejelasan gagasan

Jumlah

Skor Maksimum

28

Kriteria Penskoran nomor 1 dan 2:

1 = bila tidak pernah melakukan

2 = bila jarang melakukan

3 = bila kadang-kadang melakukan

4 = bila selalu melakukan

Kriteria penskoran nomor 3 dan 7, semakin baik penampilan siswa semakin tinggi skor yang diperoleh.

2. Penilaian Sikap

a. Pengertian

Sikap berangkat dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk untuk terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan.

Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.

Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah sebagai berikut.

· Sikap terhadap materi pelajaran. peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan.

· Sikap terhadap guru/pengajar. peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.

· Sikap terhadap proses pembelajaran. peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran di sini mencakup suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

· Sikap berkaitan dengan nilai-nilai atau norma-norma tertentu berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya kasus atau masalah lingkungan hidup, berkaitan dengan materi Biologi atau Geografi. peserta didik juga perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus lingkungan tertentu (kegiatan pelestarian/kasus perusakan lingkungan hidup). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program perlindungan satwa liar. Dalam kasus yang lain, peserta didik memiliki sikap negatif terhadap kegiatan ekspor kayu glondongan ke luar negeri.

· Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.

b. Teknik Penilaian Sikap

Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Observasi perilaku

Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.

Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Berikut contoh format buku catatan harian.


Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian:

BUKU CATATAN HARIAN TENTANG PESERTA DIDIK

( nama sekolah )

Mata Pelajaran : ___________________

Nama Guru : ___________________

Tahun Pelajaran : ___________________

Jakarta, 2004


Contoh isi Buku Catatan Harian :

No.

Hari/ tanggal

Nama peserta didik

Kejadian (positif atau negatif)

Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan.

Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek (Checklist) yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Berikut contoh format Penilaian Sikap.

Contoh Format Penilaian Sikap dalam praktek IPA :

No.

Nama

Perilaku

Nilai

Keterangan

Bekerja sama

Berini-siatif

Penuh Perha-tian

Bekerja sistematis

1.

Ruri

2.

Tono

3.

….

4.

….

Catatan:

Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai:

1 = sangat kurang

2 = kurang

3 = sedang

4 = baik

5 = amat baik

b. Pertanyaan langsung

Kita juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”.

Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.

c. Laporan pribadi

Melalui penggunaan teknik ini di sekolah, peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, peserta didik diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.

3. Penilaian Tertulis

a. Pengertian

Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.

b. Teknik Penilaian

Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:

1). Soal dengan memilih jawaban

· pilihan ganda

· dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)

· menjodohkan

2). Soal dengan mensuplai-jawaban.

· isian atau melengkapi

· jawaban singkat atau pendek

· soal uraian

Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas.

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut.

· materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;

· konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.

· bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.

4. Penilaian Proyek

a. Pengertian

Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.

Penilaian proyek dapat digunakan, diantaranya untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, kemampuan peserta didik mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam penyelidikan tertentu, dan kemampuan peserta didik dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas.

Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:

· Kemampuan pengelolaan

Kemampuan peserta didik dalam memilih topik dan mencari informasi serta dalam mengelola waktu pengumpulan data dan penulisan laporan.

· Relevansi

Kesesuaian dengan mata pelajaran, dalam hal ini mempertimbangkan tahap pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman dalam pembelajaran.

· Keaslian

Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru pada proyek peserta didik, dalam hal ini petunjuk atau dukungan.

b. Teknik Penilaian Proyek

Penilaian cara ini dapat dilakukan mulai perencanaan, proses selama pengerjaan tugas, dan terhadap hasil akhir proyek. Dengan demikian guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, kemudian menyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitiannya juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian ini dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek (checklist) ataupun skala rentang (rating scale)

Beberapa contoh kegiatan peserta didik dalam penilaian proyek:

a) penelitian sederhana tentang air di rumah;

b) Penelitian sederhana tentang perkembangan harga sembako.

5. Penilaian Produk

a. Pengertian

Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan dalam membuat suatu produk dan kualitas produk tersebut. Penilaian produk tidak hanya diperoleh dari hasil akhir saja tetapi juga proses pembuatannya.

Penilaian produk meliputi penilaian terhadap kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.

Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan dalam setiap tahapan perlu diadakan penilaian yaitu:

· Tahap persiapan, meliputi: menilai kemampuan peserta didik merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.

· Tahap pembuatan (produk), meliputi: menilai kemampuan peserta didik menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.

· Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.

b. Teknik Penilaian Produk

Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.

· Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.

· Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

6. Penilaian Portofolio

a. Pengertian

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik tersebut dapat berupa karya peserta didik (hasil pekerjaan) dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didiknya, hasil tes (bukan nilai), piagam penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karya peserta didik, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan portofolio di sekolah, antara lain :

· Saling percaya antara guru dan peserta didik

Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik,

· Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan.

· Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru

Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

· Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.

· Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

· Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.

· Penilaian dan pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.

b. Teknik Penilaian Portofolio

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut:

· Jelaskan kepada peserta didik maksud penggunaan portofolio, yaitu tidak semata-mata merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.

· Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. Misalnya, untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangan-karangannya. Sedangkan untuk kemampuan menggambar, peserta didik mengumpulkan gambar-gambar buatannya.

· Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder.

· Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

· Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio peserta didik beserta pembobotannya bersama para peserta didik agar dicapai kesepakatan. Diskusikan dengan para peserta didik bagaimana menilai kualitas karya mereka. Contoh; untuk kemampuan menulis karangan, kriteria penilaiannya misalnya: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Sebaiknya kriteria penilaian suatu karya dibahas dan disepakati bersama peserta didik sebelum peserta didik membuat karya tersebut. Dengan demikian, peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai harapan atau standar itu.

· Mintalah peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik tentang bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan atau kekurangan karya tersebut dan bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.

· Setelah suatu karya dinilai dan ternyata nilainya belum memuaskan, kepada peserta didik dapat diberi kesempatan untuk memperbaiki lagi. Namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya setelah 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.

· Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika dianggap perlu, undanglah orang tua peserta didik untuk diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan portofolio sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

7. Penilaian Diri

a. Pengertian

Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian, di mana subjek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan, status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu.

Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam proses pembelajaran di kelas, berkaitan dengan kompetensi kognitif, misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu, berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi afektif, misalnya, peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek sikap tertentu. Selanjutnya, peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik, peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut.

· dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;

· peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;

· dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.

b. Teknik Penilaian

Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan dengan cara yang objektif. Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.

· Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai.

· Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.

· Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala rentang.

· Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri.

· Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.

· Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.

Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi prestasi dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan sikap seseorang. Lagi pula, interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya.

Alat penilaian tertulis seperti pilihan ganda yang mengarah kepada hanya satu jawaban yang benar (convergent thinking), tidak mampu menilai keterampilan/ kemampuan lain yang dimiliki peserta didik. Hal ini amat menghambat penguasaan beragam kompetensi yang tercantum pada kurikulum secara utuh. Alat penilaian pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan-balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. Karena itu, guru hendaknya mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan antara jenis-jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkat pencapaian. Hasil penilaian dapat menghasilkan rujukan terhadap pencapaian peserta didik dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga hasil tersebut dapat menggambarkan profil peserta didik secara lengkap.

LAMPIRAN 1: Pertanyaan sebelum penyajian modul ini

Pertanyaan

Jawaban

  1. Apa hakekat penilaian?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Apa beda tes dengan non tes?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Apa beda tes tertulis dengan tes perbuatan?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Apa beda tes objektif dengan tes essay?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Bagaiamana menilai ranah kognitif?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Bagaimana menilai ranah psikomotor?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

  1. Bagaimana menilai ranah afektif?

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………..

LAMPIRAN 2: Contoh tes tertulis

Dibawah ini beberapa contoh tes essay untuk IPA. Jawablah pertanyaan ini. Apa jenis kompetensi yang dapat diukur dari tes ini? Diskusikan. Buatlah tes essay seperti ini sesuai mata pelajaran yang Saudara kuasai.

  1. Apa bumyi hukum archimedes?

  1. Apa contoh penerapan hukum archimedes dalam kehidupan sehari-hari?


  1. Kapal selam dapat tenggelam dan merapung. Bagaimana cara kerja kapal selam?

  1. Apa saranmu pada penjual kolak agar pisang dan kolang-kaling dapat merapung dalam kolak?

5.

Pak Dinar, seorang penyelam bunga karang di pesisir Pangandaran kebingungan membuat alat yang dapat tenggelam dan merapung pada kedalaman 3 meter. Apa saranmu untuk membantu Pak Dinar?
LAMPIRAN 3 : Tugas menyusun tes tertulis ranah kognitif

Mapel : ………….

Kelas : …………..

KD/ Indikator : ……………………………

…………………………….

…………………………….

Materi Pokok : …………………………..

Aspek

Draft 1

Draft 2

Draft 3

Recall

……………….

………………..

……………….

(1)

……………….

………………..

……………….

(1)’

……………….

………………..

……………….

(1)’’

Pemahaman

……………….

………………..

……………….

(2)

……………….

………………..

……………….

(2)’

……………….

………………..

……………….

(2)’’

Penerapan

……………….

………………..

……………….

(3)

……………….

………………..

……………….

(3)’

……………….

………………..

……………….

(3)’’

Sintesa

……………….

………………..

……………….

(4)

……………….

………………..

……………….

(4)’

……………….

………………..

……………….

(4)’’

Analisa

……………….

………………..

……………….

(5)

……………….

………………..

……………….

(5)’

……………….

………………..

……………….

(5)’’

Evaluasi

……………….

………………..

……………….

(6)

……………….

………………..

……………….

(6)’

……………….

………………..

……………….

(6)’’


LAMPIRAN 4: Tugas Menyusun Tes Perbuatan

Mapel : ………….

Kelas : …………..

KD/ Indikator : ……………………………

…………………………….

…………………………….

Materi Pokok : …………………………..

Respon Perbuatan

Draft 1

Draft 2

Draft 3

  1. Pengamatan

  1. Pengukuran

Contoh:

Ukurlah panjang benda-benda yang ada di sekitarmu?

  1. Pengelompokan

  1. Pembuatan model

  1. Penelitian sederhana


LAMPIRAN 5: Contoh rubrik penilaian keterampilan mengukur?

  • Bagaimana menetapkan skor?
  • Apa saja aspek yang perlu dinilai?
  • Bagaimana menjaga supaya penilaian bersifat objektif?

Tabel Rubrik penilaian kegiatan pengukuran

Aspek

1

2

3

4

Ketelitian data

· Tidak menempatkan skala 0 pada awal pengukuran

· Tidak pernah merekam hasil pengukuran

· Tidak pernah menera alat ukur sebelum mengukur

· Tidak menempatkan skala 0 pada awal pengukuran

· Sekali-kali merekam hasil pengukuran

· Kadang-kadang menera alat ukur sebelum mengukur

· Kadang-kadang menempatkan skala 0 pada awal pengukuran

· Sering merekam hasil pengukuran

· Seringkali menera alat ukur sebelum mengukur

· Menempatkan skala 0 pada awal pengukuran

· Selalu merekam hasil pengukuran

· Selalu menera alat ukur sebelum mengukur

Kelengkapan data

· Kadang-kadang merekam data tanpa pengukuran

· Mengukur setiap besaran hanya sekali

· Mengukur besaran yang sama hanya dua kali

· Mengukur besaran yang sama lebih dari tiga kali

Pemilihan alat ukur

· Tidak pernah memilih alat ukur yang ketelitiannya tinggi

· Kadang-kadang memilih alat ukur yang ketelitianya tinggi

· Seringkali memilih alat ukur yang ketelitiannya tinggi

· Memilih alat ukur yang ketelitiannya tinggi


LAMPIRAN 6: Contoh rubric keterampilan menulis dari internet

NOTE: The specific criteria for each category are meant to serve only as a guide. You may want to insert your own criteria based on your own standards. Delete this text box before printing.

WRITING RUBRIC

CATEGORY

4

3

2

1

Topic Sentence

Each paragraph starts with a well-constructed and focused topic sentence.

Almost all paragraphs start with a well-constructed topic sentence.

The topic sentences are not well constructed and they don’t focus on one topic.

Paragraphs do not start with a sentence with a focused topic.

Supporting Details

Each paragraph contains 2 or 3 details that support the topic.

Each paragraph contains at least 2 details that support the topic.

Each paragraph contains at least 1 detail that supports the topic.

Paragraphs do not contain details that support the topic.

Vocabulary

Vivid words and phrases are used that bring the topic alive and are used accurately.

Vivid words and phrases are used that bring the topic alive and they may not always be used accurately.

The vocabulary words used clearly communicate ideas but there is a lack of variety.

The vocabulary used is limited and does not adequately communicate ideas.

Grammar & Spelling

There are no errors in grammar or spelling.

There are 1 or 2 errors in grammar or spelling but they don’t affect meaning.

There are 3 or 4 errors in grammar or spelling that distract the reader from the content.

There are more than 4 errors in grammar or spelling that make the paper difficult to understand.

Capitalization & Punctuation

There are no errors in capitalization or punctuation.

There are 1 or 2 errors in capitalization and/or punctuation but the paper is still easy to understand.

There are a few errors in capitalization and/or punctuation that distracts from the content.

There are more than four errors in capitalization and/or punctuation that make the paper difficult to understand.

Conclusion

The conclusion is well constructed and draws together all the details to form an ending.

There is a conclusion and it draws together most of the details.

There is a conclusion but it doesn’t draw together most of the details.

There is no clear conclusion or ending to the paper.


LAMPIRAN 7: Contoh rubrik pembuatan informasi system kerangka dari internet

“Boning Up on Bones” (Skeletal System)
SCORING RUBRIC:
Website

Student ____________________________________Date_________________

CATEGORY

4

3

2

1

My Score

Content Accuracy

All information provided by the student on the web site is accurate and all requirements of the assignment have been met.

Almost all the information provided by the student on the web site is accurate and all requirements of the assignment have been met.

Almost all of the information provided by the student on the web site is accurate and almost all of the requirements have been met.

There are several inaccuracies in the content provided by the students OR many of the requirements were not met.

Work Ethic

Student always uses classroom project time well. Conversations are primarily focused on the project and things needed to get the work done.

Student usually uses classroom project time well. Most conversations are focused on the project and things needed to get the work done.

Student usually uses classroom project time well, but occasionally distracts others from their work.

Student does not use classroom project time well OR typically is disruptive to the work of others.

Interest

The author has made an exceptional attempt to make the content of this web site interesting to the people for whom it is intended.

The author has tried to make the content of this web site interesting to the people for whom it is intended.

The author has put lots of information in the web site but there is little evidence that the person tried to present the information in an interesting way.

The author has provided only the minimum amount of information and has not transformed the information to make it more interesting to the audience (e.g., has only provided a list of links to the content of others).

Fonts and Graphics

Fonts and graphics are related to the theme/purpose of the site, are thoughtfully cropped, are of high quality and enhance reader interest or understanding.

Fonts and graphics are related to the theme/purpose of the site, are of good quality and enhance reader interest or understanding.

Fonts and graphics are related to the theme/purpose of the site, and are of good quality.

Fonts and graphics seem randomly chosen, are of low quality, OR distract the reader.

Navigation

All links for navigation are clearly labeled and consistently placed.

Most links for navigation are clearly labeled and consistently placed.

Some needed links seem to be missing. A user sometimes gets lost.

Some links do not take the reader to the sites described. A user typically feels lost.

Spelling and Grammar

There are no errors in spelling, punctuation or grammar in the final draft of the web site.

There are 1-3 errors in spelling, punctuation or grammar in the final draft of the web site.

There are 4-5 errors in spelling, punctuation or grammar in the final draft of the web site.

There are more than 5 errors in spelling, punctuation or grammar in the final draft of the web site.

Total Score


Content Accuracy

All information provided by the student on the web site is accurate and all requirements of the assignment have been met.

Almost all the information provided by the student on the web site is accurate and all requirements of the assignment have been met.

Almost all of the information provided by the student on the web site is accurate and almost all of the requirements have been met.

There are several inaccuracies in the content provided by the students OR many of the requirements were not met.

Kalimat topik

Semua alinia memuat kalimat topic yang terarah dan tersusun secara jelas

Hampir semua alinia memuat kalimat topic yang terarah dan tersusun secara jelas

kalimat topic pada setiap alinia tidak terarah dan tidak tersusun secara jelas

Semua alinia tidak memuat kalimat topik


DAFTAR PUSTAKA

Forster, Margaret, dan Masters, G. (1996). Portfolios Assessment Resource Kit. Camberwell, Melborne: The Australian Council for Educational Research Ltd.

Forster, Margaret, dan Masters, G. (1996). Project Assessment Resource Kit. Camberwell, Melborne: The Australian Council for Educational Research Ltd.

Forster, Margaret, dan Masters, G. (1998). Product Assessment Resource Kit. Camberwell, Melborne: The Australian Council for Educational Research Ltd.

Forster, Margaret, dan Masters, G. (1996). Performance Assessment Resource Kit. Camberwell, Melborne: The Australian Council for Educational Research Ltd.

Forster, Margaret, dan Masters, G. (1999). Paper amd Pen Assessment Resource Kit. Camberwell, Melborne: The Australian Council for Educational Research Ltd.

Gronlund, E. Norman. (1982). Constructing Achievement Tests. London: Prentice Hall.

Linn, R.L., dan Gronlund, N.E. (1995). Measurement and Assessment in Teaching. New Jersey: Prentice Hall.

Popham, W.J. (1995) Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Boston: Allyn & Bacon.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: